Hari minggu sore saya melancong (istilah kerennnya melali) ke rumah salah seorang teman, sesampainya disitu ternyata ada keluarga kakak dari teman saya yang sedang menginap (ortu dan 2 anaknya). Nah yang ingin saya bicarakan adalah kebiasaan yang dilakukan oleh keponakan teman saya yang masih kecil. Begini ceritanya (saya sajikan dalam bentuk dialog BALIngual alias bahasa BALI yang diterjemahin) :
- Teman saya (TS, sebut aja gitu): “De, mai malu kejep” (De (karena anak pertama makanya dipanggil Gede), sini dulu)
- De (saya cuma tau dia dipanggil De): “Apa?”
- TS: “Beliang roko di warung ne di muka to nah…” (belikan rokok di warung yang depan ya…)
- De: “ya…” (sepertinya anak ini ngerti bahasa bali tapi kayaknya ga pernah ngomong bahasa bali)
Kemudian teman saya menyerahkan uang 20.000an.
Ga seberapa lama si Gede balik dengan membawa rokok plus es krim (rasa coklat pula), dan kemudian memberikan rokok beserta kembaliannya kepada teman saya.
- De: “Ni Oom rokoknya”
- TS: “Adi kuang susukne? Anggo meli es krim mara?”(kok kurang kembaliannya?dipake beli es krim tadi?)
- De: “ya…” (ni anak kayaknya ga ada rasa bersalah)
- TS: “Laen kali de keto nah? ngorang malu men dot meblanja…” (laen kali jangan gitu ya?bilang dulu kalo mau belanja…)
Eh, waktu dikasi omongan si anak malah ngeloyor pergi dengan cueknya (mungkin rasa es krim lebih enak daripada harus dengerin omongan dari Oom yang sok alim, hehehehe). Nah, setelah itu si teman saya ini yang saya tanyai :
- Saya: “Nak engken to?adi uyut di?” (bagaimana itu?kok ribut?)
- TS: “Kebiasaan… cenik-cenik be nagih meupah, engken nyanan gedene… men sing baang upah sing nyak mejalan ye,,, sing nyidang ngajin panak reramane to…” (kebiasaan… kecil-kecil sudah minta diupah,gimana nanti kalo udah gede… kalo tidak dikasi upah ga mau jalan dia,,, nggak bisa ngajarin anak orang tuanya… )
Saya cuma bisa geleng-geleng dengar teman saya ngedumal, malah rasanya saya yang diberi omongan pedas, hehehe…
Akhirnya kepikiran juga buat ngangkat ini dijadiin bahan (maklum akhir-akhir ini saya agak buntu, kebanyakan chat kayanya), karena kasus (ciiieeehhh, kasus…) seperti ini sering sekali saya temui, bahkan ada juga keponakan saya yang seperti itu, dulu kalo nyuru dia buat belanja kemana aja musti memberi upah 1000 perak, padahal belanjanya mungkin cuma 1000 juga.
Kebiasaan meminta upah sebenarnya dapat dipandang positif-positif saja dalam mendidik anak, seperti yang dikatakan oleh Ibu saya ketika saya tanyakan mengenai masalah ini, beliau bilang:
“Boleh saja mengupah anak kecil, tapi harus dilihat dalam hal tertentu saja”
contohnya seperti menjanjikan hadiah kenaikan kelas (kata ibu saya itu termasuk mengupah sekaligus memancing agar giat belajar), atau menjanjikan akan membuatkan makanan yang enak bila anaknya mau menyapu halaman di hari minggu. Namun juga harus diusahakan agar upah yang diberikan tidak langsung berupa “mentahan” alias duit, karena bisa membuatnya menjadi seperti hal yang dialami ponakan saya dan juga ponakan teman saya.
Hal kedua yang harus diperhatikan juga adalah mengajarkan si anak agar tidak membiasakan diri mau diberi uang oleh kerabat, juga beritahukan kerabat yang menyuruh si anak melakukan sesuatu memberi si anak upah. Yang terakhir, jangan biasakan anak untuk berbelanja berlebihan dengan uang kembalian, contohnya ketika menyuruh si anak berbelanja katakanlah “Nanti kembaliannya adik ambil buat ditabung ya?”. Hal ini juga sekaligus mengajarkan si anak untuk tidak mata duitan, tidak boros, dan juga rajin menabung.
