Skip to content
March 13, 2016 / Dana Suwardana

Syarat Mati

Mungkin kedengarannya aneh, tapi memang sedikit unik malam ini saya mendapatkan banyak ide-ide setengah gila. Kali ini tentang syarat mati, bukan kenapa harus mati, bukan tentang apa yang harus dilakukan sebelum mati. Tapi kenyataan lucu.

Syarat Mati, Nggak Harus Tua, Muda Pun Boleh

Advertisements
June 15, 2010 / Dana Suwardana

Berhenti Berlangganan XL RBT

Setelah 2 kali kecolongan tentang pulsa yang terpotong gara gara perpanjangan RBT, kali ini saya nggak mw kecolongan lagi. Rencananya kemarin pagi setelah mengisi pulsa saya langsung berhenti berlangganan yang namanya itu RBT, tapi kenyataan berkata lain.

Read more…

February 22, 2009 / Dana Suwardana

KASKUS? satu hal yang bikin ketagihan…

saat saya nulis post ini, saya sedang menunggu selesai “maintenis”nya  kaskus.us. Kaskus.us merupakan satu situs, sebut aja forum yang sebenarnya sudah saya ikuti sejak dulu, bahkan postingan saya yang pertama sumbernya dari sana :D.

Kenapa sih Kaskus bikin ketagihan? itu karena ISO, he apaan lagi ini? Read more…

February 11, 2009 / Dana Suwardana

“BaLi” kebiasaan baru anak muda Bali

Malam minggu kemarin kebetulan saya pulang pagi(jadinya bukan malam minggu pagi, tapi minggu pagi…), kemudian saat melewati salah satu jalan di bagian barat denpasar, saya melihat segerombolan anak muda(ya…rata – rata lebih muda dari saya:)) yang berjejer di pinggiran jalan yang memang panjaaaaaang banget

Read more…

January 17, 2009 / Dana Suwardana

Bahasa Indonesianya apa ya?

Tadi sore saya merasa bingung(selain karena bokek,,,) setelah kakak sepupu saya menceritakan pengalamannya mengajak anaknya pergi ke dokter. Anaknya kebetulan terkena flu, dan saat dia bilang pada dokternya bahwa anaknya nggak bisa “ngebresin” ingus(istilah bali untuk mengeluarkan ingus dari hidung…), seketika juga dokter tertawa. Kemudian kakak saya menanyakan pada dokter apa sih bahasa indonesianya “ngebresin”? Ternyata sang dokter menjawab dengan “membuang ingus”(emang sampah?)

Read more…

November 18, 2008 / Dana Suwardana

SMS Ca’ur

SMS alias Short Message Service a.k.a. Layanan Pesan Singkat memang banyak gunanya, namun akhir-akhir ini gara-gara sms juga inbox hp saya cepat penuh, selain karena sms dari pasangan namun juga sms yang istilahnya “nggak penting” yang dikirimkan oleh teman-teman saya. Biasanya SMS itu diakhiri dengan kata-kata manis dan bersifat ajakan seperti, “…kirim ke 6 nomor teman anda, maka…” ,atau “…kalau kamu mendapatkan 6 balasan juga maka…” dan yang paling “nggak banget” adalah “…saya udah mencoba, dan benar…” . Itu belum seberapa dibanding yang dulu pernah beredar sewaktu jaman saya SMA yang bunyinya “Sebarkan! Jangan sampai putus di kamu… kalau sampai terputus di kamu maka akan terjadi ……” itu sebenarnya SMS apa kutukan? Seberapa besar sih kekuatan magic SMS? Inilah yang sering saya jadikan bahan guyonan bersama teman-teman, yang terkadang isi dari SMS kami ganti dengan bahan lelucon bahkan dengan ejekan dan nama-nama orangtua.

Nah ini saya dapat dari koran, isinya memang Ca-Ur tapi lumayan berguna(nggak tau korannya juga tanggalan n tahunnya, cuma nemu sobekannya di dagang kacang rebus…) ditambah dengan beberapa penyesuaian terhadap perkembangan sms dari saya (soalnya dari wujudnya kayanya korannya udah lawas.).

Kirim SMS jika…

  1. Punya HP(sekarang telepon rumah juga bisa)
  2. Punya Sim card
  3. Punya pulsa
  4. Punya Laptop dan langganan internet (numpang free hotspot juga bisa…)
  5. Sedang ingin mengutarakan rasa suka tapi tidak berani bicara langsung, karena kalau bicara langsung sering salah tingkah dan lebih sering lagi berakhir lebih kacau dan melenceng dari tujuan awal (tapi ngomong suka lewat SMS dianggap kurang jantan tuh…).
  6. Dengan bertelapon langsung anda tidak dapat berkomunikasi. Gara-gara sinyal kurang, atau sedang dalam suasana rapat atau ruang kelas, atau di dalam ruang kelas anda sedang kesal dengan pengajar, kita bisa men’SMS teman. Tapi cukup 1 kali saja supaya kekesalan anda lumayan berkurang. Nanti pada akhirnya, giliran anda yang akan di SMS oleh sang pengajar; “Kamu, Keluar dari kelas Saya!!!”(kan gawat tuh?).
  7. Mengirimkan ucapan selamat, berduka cita, atau sesuatu yang mengirimkan sesuatu yang bersifat memberi perhatian pada orang lain. Jangan mengirim SMS untuk hal yang tidak benar seperti, mengumpat, bergosip,merayu milik orang lain (pacar?istri?) atau bahkan berdagang hal-hal yang dilarang (termasuk jual narkoba, togel, dan jual diri).
  8. Pulsa anda tinggal sedikit dan tak mampu untuk bertelepon langsung (Saya Banget).
  9. Ingin ngirit. Pakai singkatan jauh lebih irit daripada nulis lengkap, tapi jangan terlalu singkat, pernah taman saya salah tangkap dengan isi SMS yang saya kirimkan isinya begini “g mkn, mls w”, nah teman saya mengira artinya “lagi makan, malas gue”(ini berakhir jadi perdebatan tentang eksistensi kerja), padahal maksudnya “nggak makan, malas gue”. Dari pengalaman itu saya selalu berhati-hati dalam mengetik SMS dan membuat singkatan.
October 31, 2008 / Dana Suwardana

Ngupah, Mendidik nggak ya?

Hari minggu sore saya melancong (istilah kerennnya melali) ke rumah salah seorang teman, sesampainya disitu ternyata ada keluarga kakak dari teman saya yang sedang menginap (ortu dan 2 anaknya). Nah yang ingin saya bicarakan adalah kebiasaan yang dilakukan oleh keponakan teman saya yang masih kecil. Begini ceritanya (saya sajikan dalam bentuk dialog BALIngual alias bahasa BALI yang diterjemahin) :

  • Teman saya (TS, sebut aja gitu): “De, mai malu kejep” (De (karena anak pertama makanya dipanggil Gede), sini dulu)
  • De (saya cuma tau dia dipanggil De): “Apa?”
  • TS: “Beliang roko di warung ne di muka to nah…” (belikan rokok di warung yang depan ya…)
  • De: “ya…” (sepertinya anak ini ngerti bahasa bali tapi kayaknya ga pernah ngomong bahasa bali)

Kemudian teman saya menyerahkan uang 20.000an.

Ga seberapa lama si Gede balik dengan membawa rokok plus es krim (rasa coklat pula), dan kemudian memberikan rokok beserta kembaliannya kepada teman saya.

  • De: “Ni Oom rokoknya”
  • TS: “Adi kuang susukne? Anggo meli es krim mara?”(kok kurang kembaliannya?dipake beli es krim tadi?)
  • De: “ya…” (ni anak kayaknya ga ada rasa bersalah)
  • TS: “Laen kali de keto nah? ngorang malu men dot meblanja…” (laen kali jangan gitu ya?bilang dulu kalo mau belanja…)

Eh, waktu dikasi omongan si anak malah ngeloyor pergi dengan cueknya (mungkin rasa es krim lebih enak daripada harus dengerin omongan dari Oom yang sok alim, hehehehe). Nah, setelah itu si teman saya ini yang saya tanyai :

  • Saya: “Nak engken to?adi uyut di?” (bagaimana itu?kok ribut?)
  • TS: “Kebiasaan… cenik-cenik be nagih meupah, engken nyanan gedene… men sing baang upah sing nyak mejalan ye,,, sing nyidang ngajin panak reramane to…”  (kebiasaan… kecil-kecil sudah minta diupah,gimana nanti kalo udah gede… kalo tidak dikasi upah ga mau jalan dia,,, nggak bisa ngajarin anak orang tuanya… )

Saya cuma bisa geleng-geleng dengar teman saya ngedumal, malah rasanya saya yang diberi omongan pedas, hehehe…
Akhirnya kepikiran juga buat ngangkat ini dijadiin bahan (maklum akhir-akhir ini saya agak buntu, kebanyakan chat kayanya), karena kasus (ciiieeehhh, kasus…) seperti ini sering sekali saya temui, bahkan ada juga keponakan saya yang seperti itu, dulu kalo nyuru dia buat belanja kemana aja musti memberi upah 1000 perak, padahal belanjanya mungkin cuma 1000 juga.

Kebiasaan meminta upah sebenarnya dapat dipandang positif-positif saja dalam mendidik anak, seperti yang dikatakan oleh Ibu saya ketika saya tanyakan mengenai masalah ini, beliau bilang:
“Boleh saja mengupah anak kecil, tapi harus dilihat dalam hal tertentu saja”
contohnya seperti menjanjikan hadiah kenaikan kelas (kata ibu saya itu termasuk mengupah sekaligus memancing agar giat belajar), atau menjanjikan akan membuatkan makanan yang enak bila anaknya mau menyapu halaman di hari minggu. Namun juga harus diusahakan agar upah yang diberikan tidak langsung berupa “mentahan” alias duit, karena bisa membuatnya menjadi seperti hal yang dialami ponakan saya dan juga ponakan teman saya.
Hal kedua yang harus diperhatikan juga adalah mengajarkan si anak agar tidak membiasakan diri mau diberi uang oleh kerabat, juga beritahukan kerabat yang menyuruh si anak melakukan sesuatu memberi si anak upah. Yang terakhir, jangan biasakan anak untuk berbelanja berlebihan dengan uang kembalian, contohnya ketika menyuruh si anak berbelanja katakanlah “Nanti kembaliannya adik ambil buat ditabung ya?”. Hal ini juga sekaligus mengajarkan si anak untuk tidak mata duitan, tidak boros, dan juga rajin menabung.